Nuzulul Qur’an

Author: | Posted in travel No comments

Nuzulul Qur’an – Tidak merasa kita sudah menggerakkan beribadah puasa di bln. ramadhan th. ini masuk hari yang ke 17. Serta pada malam 17 Ramadhan, kerap kita kenal dengan malam Nuzulul Qur’an. Lantas apakah kelebihan malam nuzulul qur’an di banding dengan malam – malam di bln. Ramadhan yang lain? Yang kita ketahui sampai kini kalau semuanya hari istimewa, terlebih hari – hari di bln. ramadhan. Untuk lebih detilnya jadi mari kita fahami berbarengan tentang kelebihan malam nuzulul qur’an dalam syariat islam.

Kelebihan Malam Nuzulul Qur’an

Sebelumnya kita mengerti lebih dalam tentang kelebihan malam nuzulul qur’an, jadi kita terlebih dulu mesti mengerti apakah itu malam nuzulul qur’an.

Pengertian Malam Nuzulul Qur’an

Dengan cara bhs, Nuzulul Qur’an mempunyai arti turunnya Al- Qur’an. Serta dengan cara Arti nuzulul Qur’an mempunyai arti momen yang begitu utama tentang turunnya Al- Qur’an pada Rasulullah saw.

Jadi. Malam nuzulul qur’an singkatnya mempunyai arti malam di mana Allah swt turunkan kitab suci Al- Qur’an pada Rasulullah saw.

Kelebihan Malam Nuzulul Qur’an

Bila kita lihat atau mengacu dari pengertian malam nuzulul qur’an, jadi bisa kita ambillah rangkuman kalau kelebihan dari malam nuzulul Qur’an yaitu seperti berikut :

  1. Malam turunnya Al- Qur’an

Kelebihan malam nuzulul qur’an yang pertama yakni malam turunnya Al- Qur’an. Serta ini tak berlangsung pada malam – malam yang lain, oleh karena itu telah terang ini adalah kelebihan dari malam nuzulul qur’an. Al- Qur’an di turunkan tidak cuma untuk Nabi muhammad sendiri, tetapi untuk pembeda pada hak serta batil dan adalah panduan untuk umat muslim.

  1. Di turunkannya Wahyu yang pertama

Pada malam nuzulul qur’an, Allah swt turunkan wahyu yang pertama lewat penghubung malaikat Jibril. Serta wahyu yang pertama di turunkan yakni surah Al- ‘Alaq ayat 1- 5. Serta tempatnya ada di gua hira’.

  1. Diangkatnya Nabi Muhammad saw jadi utusan Allah swt serta jadi Nabi yang terakhir

Mulai sejak kecil memanglah telah nampak ciri – ciri kenabian dalam Nabi Muhammad saw. Tetapi di umur 40an lah baru Allah swt dengan cara resmi mengangkat Nabi Muhammad jadi seseorang Rasul. Serta diangkatnya beliau jadi Nabi, berlangsung ketika wahyu yang pertama beliau terima yakni di bln. Ramadhan tepatnya waktu nuzulul qur’an.

Nabi muhammad saw juga adalah nabi akhiruszaman, yang artinya sebagai nabi paling akhir serta adalah nabi yang membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang jelas benderang seperti sekarang ini.

Serta keharusan kita sekarang ini yakni terkecuali meyakini karenanya ada momen nuzulul qur’an. Namun kita harus juga dapat mengamalkan segalanya yang telah di sampaikan Rasulullah saw dalam melaksanakan ibadah pada Allah swt. Dan kita harus juga rajin membaca Al- Qur’an, tetapi harus juga mengerti berisi serta mesti mengamalkannya.

Di indonesia, saat ini tiap-tiap malam nuzulul qur’an banyak yang menggerakkan khatam al- qur’an dengan cara berbarengan – sama, khatam al- qur’an sendiri, bahkan juga ada pula yang menggerakkan pengajian dengan topik nuzulul qur’an.

Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an

Hal semacam ini adalah satu diantara bentuk rasa sukur kita pada Allah swt serta adalah bentuk peringatan momen yang begitu istimewa. Lantaran sebenarnya momen malam nuzulul qur’an adalah momen yang butuh di peringati terkecuali istimewa, malam nuzulul qur’an juga adalah saat yang begitu utama untuk kita semuanya sebagai umat muslim.

Malam nuzulul qur’an adalah malam turunnya panduan untuk umat muslim dalam menggerakkan kehidupan didunia untuk menuju kehidupan kekal yakni nantinya di akhirat.

Subhanallah. . . . demikian istimewanya momen malam nuzulul qur’an. Serta nyatanya malam nuzulul qur’an begitu bermanfaat untuk semua umat muslim baik yang hidup di saat lantas, saat skarang atau saat mendatang.

Mudah-mudahan dengan keterangan diatas, kita dapat lebih khusuk lagi dalam melaksanakan ibadah. Dan lebih rajin lagi dalam bertadarus. Lantaran sebenarnya meskipun cuma satu ayat bila membacanya penuh dengan keikhlasan serta cuma mencari Ridhonya, jadi pahala untuk orang itu. Mudah-mudahan dengan keterangan kelebihan malam lailatul qadar dalam syariah islam diatas, sedikit banyak bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan kita sampai kini. Mudah-mudahan berguna. Amin

Nuzul al-Qur’an terbagi dalam dua kata yakni Nuzul serta al-Qur’an. Menurut bhs, kata Nuzul dalam kamus lisan al-Arab bermakna (al-hulul) berdiam atau tinggal3. Sedang menurut Az-Zarqani, pemakaian Nuzul tersebut memiliki kandungan dua pengertian. Pertama bermakna : tinggal disuatu tempat serta berdiam atau beristirahat di tempat itu. Ke-2 bermakna : turunnya suatu hal dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah4.

Sedang arti al-Qur’an dengan cara bhs banyak diperselisihkan oleh beberapa ulama, ada yang menyampaikan Musytaq serta ada yang menyampaikan Jamid. Walau demikian, dengan cara simpel jika kita buka dalam kamus Arab al-Munawwir umpamanya, kata itu bermakna bacaan lantaran arti itu di ambil dari arti Qiraatun atau Qur’an, yakni bentuk masdar dari Qara’a.

> > UMROH pas NUZULUL QURAN Yuuukkkk . . . !!! < <

Rangkaian dua kata itu yang terbagi dalam susunan idhofah memberi pemahaman kalau yang dimaksudkannya yaitu turunnya al-Qur’an sendiri. Walau demikian kata sebahagian ulama khalaf : umumnya orang sudah menafsirkan Nuzul pada sebagian tempat dalam al-Qur’an bukanlah dengan maknanya yang populer, karena kesamaran yang berlangsung untuk mereka ditempat-tempat itu, lantas menjadilah tafsiran mereka hujjah untuk orang yang menafsirkan Nuzul al-Qur’an itu dengan tafsir mutakallimin. Di antara mereka ada yang menyampaikan, kalau yang diinginkan dengan turunkan al-Qur’an adalah melahirkan dari tempat yang paling tinggi, lalu malaikat Jibril menurunkannya dari tempat itu, serta di antara mereka ada yang berkata, yang diinginkan dengan turunkan al-Qur’an adalah memberitahukan pada malaikat, hingga mereka memahami, lalu mereka membawa turun apa yang sudah mereka pahamkan itu6.

Untuk menampik kesangsian, Hasbi Ash Shiddiqy memberi pernyataan kalau inti kondisi turun yang ada dalam kitab Allah ada tiga jenis :

Pertama : Turun yang ditegaskan kalau dia itu di turunkan dari Allah.

Kedua : Turun yang ditegaskan kalau dia itu di turunkan dari langit.

Ketiga : Turun yg tidak dihubungkan dengan turunnya dari Allah serta tak juga dihubungkan dengan turunnya dari langit. 7 Ketiga pernyataan itu semua dapat kita jumpai dalam al-Qur’an.

Ke-1, firman Allah dalam surah Al-An’am, ayat 114 yang berbunyi :

“Bahwa al-Qur’an itu di turunkan dari Tuhanmu dengan sebenar-benarnya, jadi jangan sampai anda sekali-kali termasuk juga orang yang ragu-ragu”.

Ke-2, firman Allah dalam surah Al-Hijr, ayat 22 yang berbunyi :

“Dan Kami turunkan hujan dari langit, lantas Kami berikan minum anda dengan air itu, serta sekali-kali tidaklah anda yang menyimpannya”.

Ke-3, firman Allah dalam surah Al-Fath, ayat 4 yang berbunyi :

“Dialah (Allah) yang sudah turunkan ketenangan dalam hati beberapa orang mukmin agar keimanan mereka jadi tambah selain keimanan mereka (yang sudah ada).

Di antara ketiga ayat yang diambil di atas, saat kita memperbincangkan permasalahan arti Nuzul dalam hubungannya dengan Nuzul al-Qur’an, menurut irit penulis ayat yang pertamalah yang paling mendekati kebenaran, lantaran memanglah sebenarnya al-Qur’an itu di turunkan dari Allah adalah kalam Allah yg tidak dapat diganggu tuntut, bukanlah kalam orang lain. Serta tidaklah kita katakan kalau al-Qur’an itu ‘ibarah dari kalamnya, serta jika di baca oleh seseorang pembaca, tidaklah disebutkan kalam pembaca tersebut, lantaran kalam itu disandarkan pada orang yang mengatakannya pada permulaan, bukanlah pada orang yang mengemukakannya. Mengenai langkah Allah menurunkannya bakal dibicarakan pada kajian selanjutnya.

Lalu pertanyaan yang nampak setelah itu yaitu bila al-Qur’an itu di turunkan, selalu apanyakah yang di turunkan? Apakah lafadznya atau mungkin maknanya? Lantaran hal semacam ini mengundang perbincangan dikalangan ulama, salah satunya ada yang memiliki pendapat kalau :

  1. Pendapat pertama, mengambil keputusan kalau yang di turunkan itu lafadz serta arti. Jibril menghafal al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz lalu menurunkannya.
  2. Pendapat ke-2, mengambil keputusan kalau Jibril turunkan maknanya saja. Rasul mengerti bebrapa arti itu, lantas beliau menta’birkan dengan bhs Arab.
  3. Pendapat ketiga, mengambil keputusan kalau Jibril terima lantas Jibril mentakbirkannya dengan bhs Arab. Serta ada memahami kalau isi langit membaca al-Qur’an itu dengan bhs Arab. Lafadz Jibril tersebut yang di turunkan pada Nabi s. a. w. 8

Ketiga pendapat itu bila kita tengok dalam al-Qur’an sesungguhnya telah diterangkan. Hal ini dapat berkaitan dengan al-Qur’an apakah ia sebagai lafadz atau arti. Salah satunya firman Allah seperti berikut:

“Tetapi dia (sesungguhnya) Qur’an yang mulia (termaktub) di Lauh al-Mahfudz”.

(Q. S. al-Buruj : 21-22)

“Sesungguhnya al-Qur’an itu yaitu betul-betul wahyu Allah yang di turunkan pada Rasul yang mulia”.

(Q. S. al-Haqqah : 40).

”Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), dalam hatimu (Muhammad) supaya anda jadi salah seseorang di antara beberapa orang yang berikan peringatan. (Q. S. Asy-Syu’ara : 193-194).

Ayat pertama dipahami oleh beberapa ulama kalau al-Qur’an itu dinisbahkan pada Allah. Allah membuatnya di Lauh al-Mahfudz, sesaat ayat ke-2 dipahami oleh beberapa ulama, kalau lafadz al-Qur’an yaitu lafadz Jibril, sesaat ayat ketiga dipahami juga oleh beberapa ulama, kalau lafadz al-Qur’an itu yaitu lafadz Rasul sendiri. Bila sekian, tentunya yang di turunkan pada Nabi s. a. w. yaitu arti al-Qur’an, lantas Nabi menyebutnya dengan menggunakan lafadz Nabi sendiri. 9

Beberapa muhaddits memiliki pendapat kalau, pendapat yang paling dekat pada kebenaran serta keagungan al-Qur’an, adalah pendapat yang pertama. Tersebut yang lebih pas serta lebih cocok dengan kedudukan al-Qur’an sebagai kalamullah serta sebagai satu mukjizat.

Al-Juwainy berkata : kalamullah itu (yang di turunkan) terdiri dua yakni :

Pertama, bahagian yang Allah berikan pada Jibril : katakanlah pada Nabi yang engkau diutus padanya, kalau Allah SWT, berkata begini, atau menyuruh kerjakan begini, atau memerintahkan begini. Jibril mengerti apa yang difirmankan oleh Allah s. w. t., lalu ia membawa turun pada Nabi serta lantas mengemukakannya apa yang difirmankan Allah s. w. t. padanya. Walau demikian, bukanlah dengan seperti yang didengar oleh Allah s. w. t., yaitu yang di sampaikan itu cuma maknanya saja.