Pertunjukan Suling Tambur

Author: | Posted in travel No comments

pertunjukkan suling tambur

Tari kolosal Suling Tambur biasanya diselenggarakan di Salawati, Kabupaten Raja Ampat. Konon tarian ini aslinya berasal dari Sangihe yang dibawa oleh para guru Injil ke Papua. Ada pula yang mengatakan berasal dari Biak dan dibawah ke Papua Barat. Tetapi, intinya para guru Injil lah yang membawanya. Di Kabupaten Raja Ampat boleh dikatakan tari Suling Tambur  menjadi ikon budaya selain yospan atau dulu sempat popular dengan sajojo, yang sangat kerap ditarikan dalam berbagai acara. Bahkan menjadi salah satu favorit dalam festival tahunan yang biasanya diselenggarakan setiap bulan Oktober.

Alat musik utama dalam pertunjukan suling tambur ini adalah tambur, suling dan tifa. Biasanya tambur dimainkan oleh para lelaki, lantaran bentuknya yang cukup besar dan tentu terasa berat bagi yang belum terbiasa. Sementara kaum hawa, biasanya ibu-ibu bertugas meniup suling dan menabuh tifa. Tetapi juga tak jarang kaum pria ikut meniup suling dan perempuan menabuh tambur. Suling dibunyikan dalam berbagai jenis bunyi yaitu alto, tenor, bass, sopran sehingga tedengar padu dan indah. Pemimpin tarian atau semacam mayoret, memegang sebuah tongkat dan memainkan dinamika dengan sangat cerdik. Para penari membentuk beberapa barisan, sesuai dengan jumlah yang terlibat, lalu bergerak mengikuti arahan mayoret. Boleh dikatakan tarian ini melibatkan semua orang sehingga sesungguhnya tidak ada penonton. Itulah sebabnya sang mayoret selalu punya daya atraktif, kreatif dan motivatif untuk  menggerakkan semua partisipan. Prinsipnya supaya semua ikut  terlibat ramai-ramai dalam kegembiraan kolosal.

Para pemain musik bisa bergantian. Dari penonton masuk menggantikan peniup suling, penabuh tambur atau tifa. Sirkulasinya berlangsung alami. Yang lelah boleh digantikan untuk beristirahat. Para penari datang dan pergi, keluar dan masuk. Jadi, sebenarnya bisa dikatakan bahwa dalam tarian ini tidak ada penonton karena semua menjadi pemain (penari). Semua larut dalam gerak tari dan keriangan. Gerakan-gerakan tubuhnya yang sangat atraktif mempresentasikan kekuatan kharisma, seolah-olah kendali sepenuhnya ada dalam genggaman. Pada saat tertentu dia seakan-akan memprovokasi massa lalu tambur akan ditabuh kian lama kian cepat, cepat dan makin cepat, bertalu-talu, bersahut-sahutan, lantang dan bising. Diikuti gerakan-gerakan tarian yang merontak, memecah barisan lalu menghambur keluar dan acak kadul menuruti selera individualitas. Para penabuh tambur juga memecah dan menghantam permukaan tambur dengan gencar sambil melompat-lompat tak keruan mengikuti selera gerak tubuhnya, namun bunyi tambur tetap dalam irama yang terkontrol menahan tegangan. Semua berhamburan keluar dari barisan, membongkar kemapanan, memecah rutinitas. Lalu, pemimpin akan kembali menggerakkan tongkat komando dengan cara tertentu, diikuti nada tiupan khas dari para pemain suling sebagai penanda berakhirnya fase chaotik. Sontak semua kembali ke barisan, masuk ke rutinitas sambil bergerak menari dalam formasi apik dan rapih seperti sediakala. Keseimbangan kembali tercipta, setelah chaos berlalu.

Sekali lagi, jumlahnya tidak terbatas. Proses sirkulasi memungkinkan tarian ini dilakukan semalam suntuk tanpa henti.  Bisa saja manusia seluruh kampung terlibat, bahkan dengan membawa bayi-bayi mereka. Biasanya, bila peserta sudah menyusut, mayoret akan mengarahkan arak-arakan keluar dari lokasi kembali menyusuri jalan, membawa kegaduhan kembali berkeliling rumah-rumah dan kampung untuk mengumpulkan massa.  Lalu kembali ke lokasi dengan peserta yang lebih banyak.

Sumber : https://www.rajaampatholidays.com/